Menjadi Orang Antusias

  1. Pendahuluan

Dunia ini membuka jalan bagi orang yang mengetahui tujuannya, lebih tegas lagi adalah tujuan hidupnya. Menjadi seseorang yang punya tujuan, tidak ragu-ragu, konsisten, komitmen, disiplin dan fokus, akan mengantarkan ia sampai ke tempat tujuan dengan efektif dan efisien.

 

Anne Morrow Lindbergh mengatakan: ‘Yang paling melelahkan dalam hidup ini adalah menjadi pribadi yang berpura-pura’.

 

Mana mungkin hidup yang penuh kepura-puraan dapat mencapai tujuannya, sedangkan tujuan itupun harus solid kalau tak ingin menuai kesulitan di kemudian hari. Kekuatan perubahan diri, bangun dari segala yang ‘semu’ dan ‘fatamorgana’, meretas jalan yang penuh onak duri dan menggapai keberhasilan hidup perlu modal yang namanya antusias!

 

Dalam kehidupan nyata yang saya alami ini, saya dapat melihat, berpikir, bergerak, merasa, dan menjadi pemain yang saya inginkan, saya mempunyai tujuan yang hendak saya raih, segala sesuatunya saya lakukan dengan cara yang terbaik yang saya ketahui, saya melakukan yang terbaik yang mampu saya lakukan, dan saya berniat untuk terus melanjutkan yang terbaik sampai akhir hayat saya.

 

Jika pada akhirnya saya ternnyata benar, maka apa yang dikatakan orang mengenai saya tidaklah berarti, sebaliknya jika pada akhirnya ternyata saya salah, maka semua itu adalah sebuah resiko terencana. Sekarang inilah waktu untuk memulainya.

II. Pembahasan

Mulai dengan belajar menemukan dan menghilangkan hal-hal yang menghambat pikiran, perasaan dan kebiasaan, selanjutnya dengan memanfaatkan teknik mental positif, siap menghadapi tantangan apapun setiap hari.

 

Pada umumnya  seseorang yang menghadapi rintangan dan kesusahan lalu ia menjadi kehilangan sikap yang baik, pesimistis, dan menjadi putus asa. Rintangan akan selalu datang walau tanpa diundang, hidup ini selalu dikelilingi masalah, karena memang hidup dan masalah adalah satu paket kehidupan, akan tetapi yakinlah tak ada masalah yang tak ada jalan keluarnya. Jika ke depan – ke belakang – ke kiri – ke kanan jalan terasa buntu, masih ada jalan lain yaitu ke atas,

 

Manusia ada karena ada penciptanya dan Sang Pencipta tak akan pernah membiarkan ciptaanNYA dirundung masalah atau menanggung masalah yang melebihi kekuatannya. Jadi yakinlah bahwa setiap masalah pasti ada solusinya, yang penting manusia berusaha dan masih punya harapan, maka berpengharapanlah setiap saat, dimana saja dan kapan saja.

 

Jangan sampai yang terjadi justru kebalikannya, ke mana saja ia melihat, ke luar atau ke dalam dirinya, dia selalu mencari-cari alasan dari kegagalannya, daripada memusatkan pikiran pada apa yang dikehendaki, dia malah bersikap  menyalahkan dan takut pada apa saja yang akan terjadi.

 

Orang lain yang menghadapi situasi menekan yang sama, menjadi lebih kuat, lebih terarah, dan punya tekad. Penampilannya menjadi semakin lebih bersemangat dan efektif, meskipun berada di tengah-tengah lingkungan yang menekan, dia terus bergerak maju, dan dalam upayanya itu, dia menjadi pendorong bagi setiap orang.

 

Ilustrasi: ‘sebuah bola plastik dimasukkan ke dalam ember yang berisi air, lalu tekan ke bawah dengan ke dua tangan kita sampai ke dasar, habis itu angkat tangan kita/lepaskan, apa yang terjadi? Bola pasti melambung ke atas/ ke permukaan dan bahkan lebih!

 

Mengapa seorang pesaing yang berada di bawah tekanan menjadi ambruk, sementara yang lain terus berjuang? Sebagaimana kita ketahui bahwa Intelegency Quotient (IQ) saja belum cukup mengantarkan seseorang kepada puncak prestasi, melainkan ada Emotional Quotient (EQ) yang telah dibuktikan oleh Daniel Goleman dalam penelitiannya yang cukup menghebohkan, bahwa porsi EQ ternyata jauh lebih besar dan sangat signifikan bagi seseorang di tempat kerjanya.

 

Selain IQ dan EQ, masih ada Adversity Quotient (AQ) yang dapat dipahami sebagai ketahanmalangan, artinya keuletan, ketangguhan, kegigihan seseorang manakala ia harus berjuang untuk memenangkan pertandingan, menggapai harapannya, meraih puncak prestasi. Sesungguhnya masih ada quotient-quotient yang lain, namun yang terkait erat dengan judul tulisan ini membuat penulis membatasi pada tiga quotient tersebut di atas.

 

Bekerja keras  (work hard) itu baik, apalagi jika orang masih usia muda, otot masih kekar, rencana masih setumpuk, harapan masih panjang, namun apakah mungkin ia tetap melakukan kerja keras jika orang sudah memasuki usia lanjut, sementara otot/kekuatan sudah berkurang dan terjadi penurunan daya ingat, maka kerja keras harus diimbangi dengan kerja cerdas (work smart). Baik kerja keras maupun kerja cerdas perlu dilakukan dengan penuh antusias.

 

Kalau kita menyaksikan pertandingan yang sering digelar di sekolah-sekolah misalnya, perlombaan lari seratus meter, tentu si pelari sudah pasti mengerahkan seluruh kekuatannya sejak start dan semakin terlihat pita garis finish tentu saja si pelari semakin bersemangat untuk memenangkan perlombaannya, menjadi yang pertama dengan memutus pita garis finish itu dan keluar sebagai pemenangnya. Lain halnya dengan lomba lari sepuluh ribu meter, tentu sangat beda strateginya, memang memenangkan kehidupan perlu strategi, karena hidup adalah sebuah pertandingan dan harus dimenangkan!

 

Yang sering kita saksikan pada acara-acara pertandingan di sekolah, pelatih dan orangtua peserta didik memberi dukungan dan semangat dengan berteriak-teriak: ‘ayo cepat!, ayo lebih cepat! mau menang atau kalah!’ banyak kata yang dilontarkan bisa juga tidak enak didengar, bahkan bisa lebih buruk lagi: ‘jangan berhenti, ayo jangan gugup! lakukan apa saja asal jangan kalah!’

 

Di dunia bisnis, bisa saja terjadi  salah  pengertian, menimbulkan ancaman, limit waktu yang sangat ketat, menganggap rendah dan sepele, dan semua sikap menekan yang dipaksakan oleh para manajer kepada staf dan oleh staf kepada diri mereka sendiri. Jelas, bahwa apa saja harus dikerjakan pada waktunya, dan jika perusahaan berharap untuk bisa bertahan, maka ia harus dapat menghasilkan keuntungan (profit).

 

Ujian bagi seorang manajer yang efektif, adalah kemampuannya menyampaikan tuntutan-tuntutan ini, sebagai sebuah kesempatan yang besar, bukan malapetaka yang potensial. Daripada mencoba mengepalkan tinju, mengertakkan gigi, dan menyerah, yakinkanlah diri Anda bahwa Anda tidak perlu memikirkan tentang apapun, bahwa pikiran Anda harus dijadikan sebuah layar kosong, dan apapun yang Anda lakukan sifatnya harus spontan.

 

Yang terjadi adalah, kebanyakan orang salah memahami arti spontanitas ini. Spontanitas yang benar adalah perilaku yang dipelajari. Apabila orang-orang yang punya prestasi tinggi kelihatan bertindak tanpa berusaha, tanpa penghambat, itu sebenarnya dikarenakan oleh latihan-latihan yang dijalani terlebih dahulu. Pada saat penampilan yang sesungguhnya, para juara hanya tinggal menekan tombol guna memainkan ulang latihan-latihannya untuk mengakses persiapan psikhis dan fisik mereka. Ini merupakan hal yang sangat berbeda dari menyimpan pikiran dalam lemari pembeku dan emosi dalam alat pendingin.

 

Para pemenang dalam semua lapangan kehidupan, belajar untuk mencapai pemusatan pikiran yang rileks. Ini sangat berbeda dari kekurangan intensitas dan merupakan pemusatan perhatian kepada apa saja yang penting bagi pelaksanaan tugas secara sempurna. Pikiran kepada yang lain, dan ketegangan yang tidak diperlukan semuanya terhapus, karena segalanya berjalan sesuai dengan target. Jangan berharap mencapai hasil terbaik, tetapi belajarlah untuk mengharap yang terbaik walaupun Anda harus ‘memaksakan’ diri berbuat begitu.

 

Ingatlah juga, bahwa optimisme itu bisa menular. Dalam usaha bersama, optimisme Anda sendiri akan melekat kepada anggota lain dan menambah kemungkinan keberhasilan usaha Anda. Ini tidak berarti Anda harus berkeliling kesana-kemari dengan senyuman yang selalu tersungging manis. Ini berarti bahwa Anda harus melihat sebuah gelas berisi setengahnya daripada kosong setengahnya meskipun Anda memang melihatnya kosong separuhnya, katakanlah gelas itu setengah penuh!

 

Tidak diragukan lagi, memang baik untuk merasa optimis dan bersemangat sepanjang hal itu menuju kepada penampilan yang penuh daya dan bebas penghambat. Jangan biarkan diri Anda menjadi terlalu ‘tegang’, sebab kalau ada sesuatu yang tidak beres, semangat yang berlebihan akan dapat berubah menjadi kemurungan dan malapetaka yang sangat berbahaya. Anda jangan pernah membiarkan diri terlalu terkungkung dalam sebuah gagasan, sebuah rencana, atau proyek, sampai kehilangan kemampuan mempertahankan keseimbangan (yin-yang), jika segalanya gagal.

 

Tidak ada apapun yang terjadi di dunia ini yang dapat menggantikan kebulatan tekad, bakat pun tidak bisa. Tidak ada yang lebih kaprah dari kegagalan orang yang punya bakat, sedangkan si jenius yang tidak mendapat apa-apa. Dunia ini hampir penuh dengan orang-orang berpendidikan dari semua strata, tetapi mengapa mereka terkadang harus terlantar? Ketekunan dan tekad masing-masing pribadi sangat besar pengaruhnya, oleh karena itu antusias-lah!

III. Penutup

Pada bagian akhir tulisan ini penulis hendak menyampaikan ilustrasi berikut:

 

‘seekor induk ayam yang hendak bertelur, tentu ia berkonsentrasi penuh untuk mencari dan mendapatkan tempat ia bertelur yang nyaman, kemudian dengan sekuat tenaga ia bertelur, dan setelah itu mungkin yang ia lakukan adalah beristirahat sejenak, lalu ia keluar dari tempatnya terus berkotek-kotek sekuat-kuatnya, seolah ia telah memenangkan sebuah pertarungan dahsyat dengan sebuah prestasi, yakni telurnya’

 

Begitu antusiasnya ia mengabarkan prestasi yang baru saja diukirnya, ia telah meraih kemenangan. Sepertinya ia ‘berkewajiban mengiklankan’ prestasinya itu ke seantero wilayahnya. Begitulah naluri alamiah si ayam dan sepertinya  kita harus belajar dari ayam.

 

Penulis katakan demikian karena yang sering manusia lakukan adalah berkoar-koar dulu sebelum berprestasi, sehingga ada istilah NATO yang diplesetkan menjadi No Action Talk Only; NARO (No Action Reason Only), NADO (No Action Dream Only). ‘Bermimpi’ itu boleh, bahkan setiap orang hendaknya bermimpi besar, supaya bergairah mencapainya. Dan …….. gairah itulah yang lebih pas dimaknai sebagai antusias!

Lakukan otosugesti: ‘Hari ini adalah hari saya yang paling baik, saya tenang, rileks dan penuh tenaga, saya bisa fokus mengerjakan segala sesuatu, memiliki rasa percaya diri yang kuat, sehingga saya merasa kuat, sehat dan bahagia’. Saya akan selalu mengatakan I can dan bukan I can’t, serta tak lupa saya mengucap syukur kepada Sang Pencipta.

 

 

 

Jakarta, 06.03.2011

 

E. Handayani Tyas

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s