MUSTAHIL MERAIH HAL YANG LUAR BIASA DENGAN CARA YANG BIASA-BIASA SAJA !!!

Ilustrasi:

Dulu, kakeknya kakek saya ke sawah dengan jalan kaki;

Lalu, kakek saya ke sawah dengan naik sepeda kumbang;

Kemudian, ayah saya ke sawah dengan  naik motor;

Sekarang, saya ke tempat kerja  dengan naik mobil;

Esok lusa, anak saya pergi kerja, mungkin saja ke luar kota/provinsi  naik pesawat;

Yang akan datang, cucu saya bekerjanya antarnegara atau antarbenua;

Dan seterusnya …………………………………………………………………………………..!

Itulah PERUBAHAN!  Semboyan ‘berubah atau mati’  kedengarannya terlalu seram, mungkin lebih halus ‘inovasi atau tertinggal?’

Seorang pakar manajemen berkebangsaan Jepang, lulusan Harvard University bernama Kenichi Ohmae mengatakan: ‘Innovation is the only effective way to success‘.

Berubah itu perlu: commitment, consequence, consistance, communication, continue, credible, colaboration, celebration, etc.

Pada hakekatnya setiap orang adalah agen perubahan, akan tetapi orang enggan berubah karena banyak faktor. Mungkin takut, mungkin juga karena sudah nyaman, dan sangat mungkin untuk berubah itu besar resikonya. Di sini yang penulis maksud adalah berubah dari tidak tahu menjadi tahu, berubah dari tidak bisa menjadi bisa, berubah dari tidak mengerti menjadi mengerti, berubah dari tidak baik menjadi baik, dan berubah dari yang sudah baik menjadi lebih baik.

Indonesia memerlukan orang-orang yang mau dan mampu berubah ke arah yang lebih baik, kalau tidak mau dikatakan mundur, baik pada tataran legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Mulai dari pejabat-pejabat tertinggi dan tinggi negara sampai kepada pejabat-pejabat yang ada di bawahnya hingga menyentuh ke masing-masing pribadi yakni orang per orang.

IQ (Intelegent Quotient) memamg perlu, tapi EQ (Emotional Quotient) juga lebih perlu dan AQ (Adversity Quotient) tak kurang perlunya. Bangsa ini perlu orang-orang yang mampu menghadapi situasi yang ‘buruk’, kisruh, tak terduga, menantang, baik di bidang perekonomian, perdagangan, pemerintahan, dan sebagainya, pendeknya adalah bidang IPOLEKSOSBUD dan HANKAM.

Kesemuanya itu menurut hemat penulis, bermula dari pendidikan, karena memang dunia pendidikan merasuk ke semua lini yang ada. Urusan kesehatanpun juga karena keberhasilan pendidik mendidik para peserta didiknya untuk cara-cara hidup sehat.

Jalan hidup seseorang, lembaga, organisasi, termasuk institusi pendidikan tidak selalu mulus. Ada menurun, ada menanjak, ada terjal, ada pula kelokan dan berliku-liku yang penuh tantangan. Namun manusia harus tetap sanggup menghasilkan kinerja yang bagus, luar biasa, beda, dan bisa menjawab kemajuan/tuntutan perubahan (globalisasi).

Itu sebabnya pengetahuan, keterampilan, bahkan pengalaman kerja tidak bisa semata-mata menjadi penentu sukses atau gagalnya seseorang. Kita perlu meletakkan bobot yang sama besarnya terhadap aspek sikap (attitude), karakter (carracter), kepribadian (personality) dan ‘passion’ seseorang.

Hambatan di dalam pekerjaan ada di mana-mana, seperti konflik dengan teman sekerja, sulitnya menjalin kerja sama, susahnya menghadapi orang-orang yang tidak mau berubah ke arah yang lebih baik (dengan perkataan lain. ‘ia masih seperti yang dulu’), merasa dirinya paling benar, ingin tampil beda tapi bukan kreatif melainkan eksentrik, dan se gudang lagi hal-hal yang membuat seseorang nyaris ‘putus asa’.

Itulah sebabnya AQ (ketahanmalangan) seseorang diuji dalam hal ini dan kemungkinannya hanya ada dua, yakni  hampir lulus dan hampir tidak lulus. Oleh karena itu, pinter saja tidak cukup, karena ilmu pengetahuan itu senantiasa bertumbuh dan berkembang terus-menerus. Tidak mengikuti arus perkembangan pasti tertinggal dan tergilas oleh roda zaman, seleksi alam lebih dahsyat ketimbang seleksi apapun juga dan kompetensi – sikap – soft skill harus terus ‘digiling’ secara seimbang.

Di zaman yang serba cepat ini, marilah kita berpikir cepat dan bertindak cepat, jadilah si cepat; bersemboyanlah: aku datangaku lihataku pikiraku pahamiaku analisaaku putuskan! Ada resiko? Pasti ada, karena tidak mengambil keputusan pun adalah resiko. Resiko ada di mana-mana, karena memang kita hidup satu paket dengan resiko. Yang dapat kita usahakan adalah meminimalkan resiko dan memaksimalkan usaha + doa, sebab mustahil orang berusaha keras kalau melupakan doa. Doa sebuah kata yang kecil tetapi besar kasiatnya. Doa yang bagaimana? Yakni Doa yang PUSH (Pray Until Something Happen), jangan pernah lelah berdoa karena itu adalah bentuk komunikasi kita dengan Sang Pencipta. DIA maha mendengar, DIA maha tahu, DIA maha memberi, DIA maha kasih, dan maha segalanya.

Dengan cara yang biasa mustahil memperoleh hasil yang luar biasa, demikian yang sering saya dengar ucapan Rektor UKI (Ir. Maruli Gultom), dan ….. betullah demikian!                Untuk mengubah UKI dan mengembalikannya ke masa kejayaan seperti dulu memang tidak mudah, akan tetapi sikap presistance pimpinan yang satu ini membuat  saya yakin UKI segera bangkit. Semua lini digarapnya, semua unit-unit kerja diperhatikannya secara terintegrasi. Sistem Manajemen yang terkenal dengan POAC (Planning –  Organizing – Actuating – Controlling) terus ‘digiling/diputar’ nya, apapun yang dipandang membawa ke arah perbaikan, seperti Management Strategic, PICA, Revieuw, dan peningkatan potensi SDM diasahnya terus-menerus. Di bidang akademik dan non-akademik dikerjakannya secara sinergis, disiplin ditegakkan, kejujuran (integritas) dikumandangkan. Pak Rektor yakin bahwa SDM UKI adalah orang-orang hebat, hanya saja masih keenakan ‘tidur’ di masa lalu, sehingga kini dibangunkan, dan tak sedikit yang terperanjat dibuatnya. Memang begitulah kalau membangunkan ‘the GIANT sleeping‘. Itulah sebabnya beliau mengatakan:

TAK MUNGKIN MELAKUKAN HAL-HAL YANG BIASA UNTUK MENDAPATKAN YANG LUAR BIASA‘.

Tetap semangat pasti berkat, selamat berjuang pak Rektor !!! Tuhan Yesus memberkati UKI dan kita semua yang ada di dalamnya.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s