DOA SAJA BELUM CUKUP !!!

 

Rencana Allah dari semula sudah Allah jelaskan dalam Kitab Kejadian 1:26, yang berkata, berfirmanlah Allah: ‘Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupaNYA, menurut peta dan teladanNYA’ (Our Images). Sungguh luar biasa karunia yang Allah berikan atas pribadi kita, karenanya kita patut mengucap syukur atasnya.

Allah menginginkan kita menjadi bersifat seperti Allah, yaitu nilai-nilai hidup kita, sifat kita, sikap dan perilaku kita dalam hidup sehari-hari yang mencerminkan kemuliaan Tuhan.

Cahaya kemuliaan Allah dapat kita lihat dari pribadi Yesus melalui keteladanan hidupNYA selama kurang lebih 33 tahun di muka bumi ini. Inilah yang Alllah mau, kita harus meneladani kehidupan Yesus sehari-hari, baik kasihNYA, kesetiaanNYA, ketekunanNYA, kesabaranNYA, kelemahlembutanNYA, kesederhanaanNYA, bahkan pengorbananNYA.

Sebagai anak-anakNYA kita bisa datang kapan saja dan di mana saja kepada Bapa yang begitu peduli kepada kita. Kita boleh meminta apa saja dan IA tidak akan memberikan ular beracun kepada yang minta roti.

Yakobus 6:51 Yesus mengatakan, ‘Akulah roti hidup yang turun dari sorga, jika seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang KU berikan itu ialah dagingKU; yang akan KU berikan untuk hidup dunia’. Kalau kita percaya DIA lah roti hidup, maka kita tidak akan takut dalam menjalani hidup ini.

‘AKU lah roti hidup’. Apa maksudnya? Epilognya adalah bahwa Tuhan menyediakan kebutuhan manusia, bukan saja jasmani tetapi kebutuhan rohani. Persoalan kebutuhan jasmani adalah masalah ‘kecil’ bagiNYA. Namun fenomena yang kita hadapi sehari-hari di sekitar kita adalah berita tentang kelaparan yang menerpa dunia termasuk Indonesia; terjadinya kesenjangan yang menganga antara ‘si kaya’ dan ‘si miskin’.

Di bumi yang limpah ruah kekayaan alamnya seperti Indonesia, sampai ada musisi era tahun 80 an yang melantunkan: ‘bukan lautan tapi kolam susu, kail dan jala menghidupimu; tongkat kayu dan batu jadi tanaman, ………. dan seterusnya!’

Ironis kenyataannya, pengemis dan gelandangan menyebar ke mana-mana, mulai dari anak-anak yang belum bisa berlogika sampai pada usia manula berkeliaran di jalan-jalan di lampu-lampu lalu lintas, di perempatan jalan menengadahkan tangan/meminta-minta dan jika tidak terpenuhi keinginannya menghamburlah sumpah serapah ke luar dari mulutnya dan masih banyak lagi.

Wahai bangsa ku, umat Tuhan, sesama manusia; mengapa kau lakukan semua itu? ‘Sudah miskin, pandai mencaci maki lagi’ Ingat, dari satu mulut yang sama, bisa ke luar berkat dan juga bisa ke luar kutuk, dan jelas terlebih berkat berkata-kata baik/bijak dari pada memaki-maki yang tak elok itu.

Bertobatlah, mulai hidup baru, beribadah, tekun berdoa dan selalu berusaha, karena doa tanpa usaha hasilnya tidak ada dan usaha tanpa dibarengi doa juga sia-sia. Tuhan tidak meridhoi orang malas. Justru IA mengatakan: ‘hai pemalas, janganlah engkau makan!’. Tidak makan berarti orang bisa mati.

Tuhan pun selalu mencontohkan untuk manusia rajin. Kitab Amsal mengatakan: ‘belajarlah dari semut!’. Karena sifat semut yang dapat kita pelajari adalah rajin, suka bergotong-royong dan mau saling memberi hormat. Hal-hal yang semut kerjakan itu lah yang kini nyaris sirna bagi manusia.

Jika manusia punya kekuasaan, ia cenderung menyalahgunakan kekuasaannya, misalnya dengan memperkaya diri sendiri atau keluarganya atau golongannya. Betul juga ya yang disebut orang ‘Power tend corrupt’ itu.

Kalau dulu, motivasi orang mengikut Yesus, berbondong-bondong ke sana kemari sampai lupa waktu karena mengharapkan makanan (roti). Ada kisah tentang 5 roti dan 2 ikan dan sederet peristiwa lain seputar menjadi pengikut hanya karena perut.

Sampai kini yang masih sering kita jumpai, massa membludak karena perlu uang atau selembar kaos atau sekedar nasi bungkus, lalu rela ber demo, anarkhis, seram dan menakutkan!.

Mau jadi apa bangsa  ini, apa yang dapat dicontohkan kepada generasi penerus nanti, mau ke mana arah negara? Dari tataran lembaga tertinggi dan tinggi negara sampai kepada yang terendah sekalipun terjadi hal-hal yang membuat kita miris melihat dan mendengarnya serta menyaksikannya. Masih adakah mereka yang rajin bekerja dan juga tekun berdoa, sebagaima semboyan ‘ora et labora’.

Di akhir tulisan ini penulis sangat menyadari dan sekaligus menghimbau seluruh manusia yang menghuni bumi ini untuk senantiasa rajin bekerja dan tekun berdoa, karena menurut hemat penulis, bekerja tanpa berdoa adalah sia-sia, dan berdoa saja juga belum cukup. Percayalah, sebab ada tertulis Tenanglah! AKU ini, jangan takut! (Matius 14:27).

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s