Si JUJUR dan Si JUMI

 

Alkisah; Si Jujur adalah pemuda ganteng, penampilannya cukup sedap dipandang, apalagi oleh lawan jenisnya. Perawakan yang tinggi, tegap dan wajah tampan semua ada padanya. Sedangkan si Jumi adalah gadis manis, periang, gaul dan cerdas pula.

Keduanya berhasil menjalin cinta dan berujung di pelaminan. Hari-hari bahagia dilaluinya dengan cara hidup yang sederhana, maklum mereka adalah anak desa yang masih polos, belum banyak tersentuh dengan glamournya cara hidup metropolitan.

Si Jujur tiap harinya bekerja sebagai pengumpul kayu bakar, keluar masuk hutan dan kemudian membawa hasil kerjanya ke pasar. Demikian juga dengan si Jumi, ibu rumah tangga yang sangat sederhana, tanpa banyak tuntutan, yang ada adalah kepatuhan kepada suami dan rajin bekerja sebagai ibu rumah tangga sehari-hari.

Suatu hari si Jujur seperti biasa ke hutan dan memotong kayu, kayu yang menjadi targetnya adalah sisa pangkal kayu dari pohon yang habis ditebang dan kebetulan banget letaknya ada di tepian jurang yang cukup dalam.

Dengan semangat yang luar biasa si Jujur mengayunkan kapaknya, sehingga potongan kayu cepat terkumpul. Mengingat hari belum terlalu senja, si Jujur mengayunkan kapaknya barang dua atau tiga kali lagi, dan ……….. pada ayunan yang ke tiga ……………. lepaslah mata kapak dan jatuh ke dalam jurang.

Menangislah si Jujur tersedu-sedu,  sebab hanya itulah kapak satu-satunya yang ia miliki. Didorong rasa lelah, lapar, ingin segera pulang mengadu kepada istrinya, maka ia berdoa. Dan …….. secara ajaib ibu Peri turun dari langit dan menawarkan bantuan. Kontan wajah si Jujur berseri-seri dan mulut komat-kamit memohon agar ibu Peri berkenan mengambilkan kapaknya.

Pertama: ibu Peri mengambil dan menyerahkan kapak emas berkilauan dan …….. si Jujur mengatakan maaf, bukan itu kapak Jujur ibu Peri, kapak Jujur terbuat dari besi.

Kedua: ibu Peri mengambil dan menyerahkan kapak perak putih mengkilat dan ………  kembali si Jujur mengatakan maaf, bukan itu kapak Jujur ibu Peri, kapak jujur terbuat dari besi.

Ketiga:  ibu Peri mengambil dan menyerahkan kapak asli si Jujur yang terbuat dari besi dan ………. dengan berteriak sambil meloncat kegirangan si Jujur mengatakan betul …………. betul ibu Peri, terimakasih dan bergegaslah si Jujur pulang ke rumah.

Sesampai di rumah diceriterakanlah hal ikhwal yang telah menimpa dirinya. Si Jumi menyimak cerita si Jujur dengan khidmat dan sangat memahami. Lalu …… kata si Jumi, akang tolonglah aku besok diajak ketemu ibu Peri yang baik hati itu untuk mengucapkan syukur dan terimakasih yang sebesar-besarnya.

Ide bagus kata si Jujur spontan dan ……… bergegaslah mereka pagi-pagi benar menuju tempat jatuhnya kapak dan berdirinya ibu Peri di tepian jurang itu.

Ketika sampai di tempat, dengan bersemangat si Jujur me-reka ulang kejadian jatuhnya kapak dan tidak disangka-sangka si Jumi terperosok jatuh ke jurang yang dalam itu.

Kontan berteriak dan menangislah si Jujur meraung-raung, sambil tak lupa memohon sekali lagi kepada ibu Peri agar istri tercintanya diangkat ke atas.

Mendengar suara itu ibalah hati ibu Peri dan seperti biasa ibu Peri tampak cantik bersinar-sinar anggun dan mempesona.

Entah iblis mana yang merasuk ke hati si Jujur , langsung ia berucap: ‘biarlah dia tinggal di dalam jurang dan mari kita pulang, sambil menggandeng/memeluk mesra ibu Peri, tingkah polah si Jujur berlagak pahlawan yang baru saja meraih kemenangan telak!!!’

Itukah yang namanya sebuah kejujuran Saudara?

Dimanakah arti sebuah kejujuran Saudara?

Masih adakah kejujuran itu Saudara?

Ya a a a……. ampun, kemana kejujuran harus ku cari, kepada siapa aku harus mengadu jika ada ketidakjujuran. Masih adalah kejujuran di bumi Indonesia tercinta ini? Atau ………… semua sudah sirna, musnah, tiada berbekas, sehingga berteriak-teriak tentang kejujuran seperti orang berteriak di padang pasir, percuma, lelah, bosan, tiada hasil, nihil, omong kosong!

Aduh Gusti ……………. Engkau penguasa tunggal dunia dan segala isi di dalamnya, ampuni hambaMu ini, hamba yakin Engkau maha pengampun dan maha pemurah, serta pengasih dan penyayang, selamatkan negeriku Indonesia.

Dengan darah dan air mata pertiwi ini dimenangkan, dengan keberanian dan tekad bulat dan kemauan keras untuk menjadi bangsa yang berdaulat negeri ini diproklamirkan.

Aku ingin bangsaku ini berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi dan berkepribadian dalam budaya, sebagaimana Bung Karno ajarkan.

Oleh karena itu hentikan segera, ya sesegeraaa mungkin ketidakjujuran, kepalsuan, kebohongan, korupsi, kemiskinan, kepapaan. Bangkit dan bersatulah wahai bangsaku, bangsa yang besar, selagi Allah masih mau mendengar doa-doa kita.

Jangan lagi politik runtuh karena ketidakjujuran, ekonomi ambruk gara-gara korupsi merajalela, tumbuh subur dan liar, bagai ilalang yang mematikan harumnya rumput segar dan berembun di pagi hari. Ketidakadilan membakar dan memusnahkan sendi-sendi kejujuran, keadilan hanyalah euphoria belaka, di awang-awang dan sama sekali tidak membumi. Penindasan kaum proletar semakin menjadi-jadi, rakyat miskin bertambah melarat dan sengsara, sementara ‘si kaya’ semakin ‘rakus’ saja memutarbalikkan fakta dan data, dan masih banyak lagi jenisnya.

Hentikan!!! Ya hentikan sekarang juga, tidak ada kata lain yang paling tepat untuk balik menjadi manusia fitri di hari nan fitri seperti sekarang ini, yang dimulai dari diri sendiri masing-masing.

Mungkin saja, ketika kita melakukan ketidakjujuran, pada saat itu kita memperoleh keuntungan pribadi, namun percayalah kalau hal ini tidak akan kekal. Karena ketidakjujuran pada akhirnya akan selalu menghasilkan buah yang pahit, berujung kesengsaraan, jika ketangkap menjadi penghuni ruang sempit berjeruji besi, sumpek, pengap, nama buruk, citra hancur, dan penderitaan serta penderitaan, terpisah dari keluarga tercinta, anak – istri/suami – orangtua dan sanak keluarga.

Ingat saudara,“membangun citra membutuhkan waktu puluhan tahun, namun meruntuhkan citra cukup hanya dengan ukuran menit saja!!!”

Apa artinya rumah mewah, mobil  mewah, kantor mewah, kehormatan. Semua  harus ditinggalkan, apa guna menumpuk harta di dunia dengan melakukan ketidakjujuran, kecurangan, keserakahan; bukankah semua manusia tahu bahwa Sang Khalik itu maha tahu, maha melihat, maha mendengar, dan maha segalanya, karena semua otoritas ada di tanganNya?

Bisa dipercaya dan bisa mempercayai adalah kunci menuju keberhasilan, namun sayangnya manusia lebih memilih jalan pintas, egois, serakah, seolah mau menumpuk harta untuk  tujuh turunan atau mau hidup seribu tahun lagi. Padahal satu menit ke depan tak seorangpun yang tahu.

Karenanya, mari mulai sekarang juga kita rela menerapkan kejujuran yang dibarengi dengan Kemauan, Kemampuan dan Ketulusan (3K). Pegang teguh nilai-nilai moral dan etika, karena di dalamnya termasuk kejujuran. Selama nafas hidup masih diberikan Sang Pencipta kepada kita, itulah kesempatan untuk kita berbuat kebajikan, saling menghormati, saling menghargai dan saling memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan, mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama manusia dengan sebulat hati, pasti diberkati, amin.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s